Meulaboh – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh menggelar Workshop Responsif Gender dan Anak sekaligus pengukuhan satuan tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), Kamis 21 November 2024.
Digelar di Aula Gedung Pendidikan Terintegerasi, workshop tersebut mengangkat tema “Pengukuhan dan Penguatan Kapasitas Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) turut dihadiri oleh Para Wakil Ketua, Para Ketua Jurusan, Ketua Prodi, Dosen, dan Mahasiswa.
Reni Kumalasari, MA kepala PSGA STAIN Meulaboh menyampaikan anggota (satgas) pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS) yang telah dipilih adalah orang yang berkompeten untuk mengemban amanah ini.
“Ini merupakan langkah awal untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan Kampus STAIN Meulaboh,” ungkapnya
Reni Kumalasari menyebutkan PSGA STAIN Meulaboh memiliki 31 anggota yang terbagi 6 divisi, yaitu Penerimaan Pengaduan, Pendampingan Hukum, Pemulihan Psikologis, Rehabilitasi Sosial, Pendampingan Rohani dan Hubungan Masyarakat.
“Tentu ini semua tidak mudah, tetapi kita yakin semua tantangan dan hambatan akan mampu kita lewati bersama-sama demi menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan kampus,” kata Reni
Dr. H. Syamsuar, M. Ag dalam sambutan dan arahannya mengatakan bahwa wanita adalah tiang negara. Maka peran perempuan sangat dibutuhkan dalam memajukan sebuah negara. Maka dari itu STAIN Meulaboh memiliki visi untuk menciptakan rasa nyaman dan aman bagi Perempuan, salah satunya dengan upaya melaporkan indikasi yang mengarah kepada pelecehan seksual.
“Kita terus berusaha untuk menciptakan kampus yang terbebas dari kasus-kasus pelecehan tentu ini perlu kerjasama semuanya baik dari dosen, tendik maupun mahasiswa,” ujar Syamsuar
“Salah satu Fokus perhatian juga kita terhadap pakaian-pakaiann yang kurang sopan,” lanjut Syamsuar
Diakhir kesempatan Syamsuar berharap anggota satgas dapat menjalankan amanah ini dengan baik.
Menghadirkan Dr. Nashriyah, S.Ag., MA, Kepala PSGA UIN Ar Raniry, sebagai pemateri dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa korban kekerasan seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi atau Universitas lebih memilih bungkam dan diam karena khawatir dengan dalam masa studi nya, dengan terkait permasalahan ini yang dianggap merusak reputasi kampus.
Maka dari itu kehadiran Satgas PSGA penting karena Kekerasan seksual adalah masalah serius yang dapat berdampak jangka panjang pada korban. Dengan adanya Satgas PPKS, diharapkan kasus kekerasan seksual dapat dicegah dan ditangani dengan lebih efektif. Korban juga akan merasa lebih terlindungi dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.