Aceh Selatan- Pemuda Pemerhati Kebijakan Pemerintah Aceh Selatan, Anhar Sawang, menyampaikan kritik keras terhadap keberangkatan Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah di tengah situasi bencana banjir yang masih melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Anhar menegaskan, dirinya tidak menolak ibadah sebagai bentuk penguatan spiritual. Namun menurutnya, dalam kondisi darurat bencana, kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat menjadi hal yang jauh lebih utama.
“Ibadah itu penting, itu spiritual. Tapi saat rakyat sedang tertimpa musibah besar, masyarakat butuh pemimpin yang hadir langsung bersama mereka. Menurut saya, ibadah yang paling utama bagi seorang pemimpin adalah berada di tengah rakyatnya saat mereka kesusahan,” ujar Anhar, Sabtu (6/12/2025).
Ia menilai, ibadah umrah bersifat sunnah dan bisa dilakukan kapan saja. Sementara kepemimpinan dalam situasi krisis adalah amanah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Lebih lanjut, Anhar menyayangkan sikap Bupati yang dinilainya kurang menunjukkan empati tidak hanya kepada masyarakat Aceh Selatan, tetapi juga terhadap daerah lain di Aceh yang terdampak bencana lebih parah, seperti Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Bireuen.
“Seharusnya seorang pemimpin mengajak masyarakat untuk bergotong royong membantu saudara-saudara kita di daerah lain. Itu baru teladan pemimpin yang sesungguhnya,” katanya.
Dalam pernyataannya, Anhar bahkan secara terbuka meminta Bupati Aceh Selatan untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya.
“Kalau memang tidak mampu hadir dan menangani bencana dengan empati, lebih baik mundur secara terhormat. Aceh Selatan butuh pemimpin yang benar-benar peduli, bukan yang hanya sibuk pencitraan di media sosial,” tegasnya.
Pernyataan Anhar ini muncul setelah keberangkatan Bupati Aceh Selatan ke Tanah Suci menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, hingga pencopotannya dari Ketua DPC oleh Partai Gerindra, akibat melangsungkan umrah di tengah penanganan pascabanjir di sejumlah kecamatan di Acdh Selatan dan Bencana Alam di Aceh.








