TAMIANG – Pemulihan penyintas bencana menuntut keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan fisik dan penguatan mental spiritual. Tanpa pendampingan ruhiah, warga rentan kehilangan harapan di tengah masa sulit pasca-musibah. Langkah Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menjadi krusial untuk memastikan masyarakat tetap tangguh secara batin sekaligus terpenuhi kebutuhan dasarnya.
Aksi nyata ini berlangsung pada Kamis, 1 Januari 2026. Tim relawan bergerak menuju dua titik utama di Kecamatan Tenggulun untuk mendistribusikan amanah para donatur.
Koordinator Kemanusiaan BMH di lokasi, Johani Farhan, menjelaskan urgensi kegiatan tersebut.
“Langkah ini sangat penting karena memang masyarakat membutuhkannya saat ini,” ujar Johani singkat.
Pada titik pertama, tim menyalurkan bantuan Al-Qur’an dan Iqra di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Simpang Kiri.
Bantuan ini berasal dari kedermawanan drg. Wiwik Elnangti Wijaya.
Program tersebut bertujuan menghidupkan kembali syiar Islam dan aktivitas mengaji di wilayah terdampak.
Selanjutnya, bantuan menyasar Dusun Melur Pondok Seng di desa yang sama.
Sebanyak 35 Kepala Keluarga (KK) menerima paket logistik untuk memperkuat ketahanan jasadiah mereka. Distribusi ini memastikan para penyintas memiliki cadangan pangan yang memadai selama masa pemulihan.
Kehadiran bantuan yang menyentuh sisi ruhiah dan jasadiah ini menciptakan fondasi pemulihan yang utuh.
“Pemenuhan fasilitas ibadah dan logistik secara beriringan menjaga stabilitas sosial di tingkat akar rumput,” imbuh Johani.
Konsistensi dalam mengawal kebutuhan warga penyintas menjadi bukti nyata bahwa kepedulian kolektif mampu mempercepat normalisasi kehidupan di wilayah pedalaman.”Kita tetap bisa beresama untuk Aceh Tamiang lebih baik,” tutup Johani.










