Banda Aceh – Di tengah pesatnya integrasi teknologi dalam budaya dan norma, STAI Tgk. Chik Pante Kulu sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bersama pakar antropologi yang juga merupakan dekan fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Arraniry Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, M.Sh, Ph.D yang kerap disapa KBA.
Kuliah umum yang bertajuk “Manusia di Era Digital: Antara Identitas, Budaya, dan Teknologi”. diselenggarakan di Mushalla kampus pada Sabtu 14 Februari 2026.
Turut hadir dalam acara tersebut pembina yayasan, dosen dan civitas akademika, serta ratusan mahasiswa dan mahasiswi STAI Tgk. Chik Pante Kulu.
Ketua STAI Tgk. Chik Pante Kulu, Dr. Sarina Aini, Lc., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, menyatakan pentingnya peran institusi pendidikan tinggi sebagai benteng nalar kritis di tengah arus shifting transformasi digital.
KBA dalam kuliahnya menyoroti fenomena “Pseudo-Knowledge” atau pengetahuan semu yang kini membanjiri ruang siber.
“Di era di mana algoritma seringkali lebih mengenal kita daripada diri kita sendiri, tantangan terbesar adalah menjaga autentisitas. Informasi saat ini lebih banyak berbentuk emosional daripada rasional; kita sering percaya karena viral, bukan karena benar. Tingkat kepercayaan masyarakat kini sering dipengaruhi oleh berapa banyak follower orang yang mengutarakan,”
KBA juga menjelaskan adanya pergeseran besar dari cara Masyarakat memperoleh dan menyerap pengetahuan dan informasi di zaman sekarang, dari yang dulunya bersifat Non-Automatic Knowledge yang membutuhkan perenungan mendalam, menuju Automatic Knowledge yang bersifat instan”.
“Bit asoe tok,” kata Nilawati, MA selaku moderator. Diakhir sesi, antusias mahasiswa diluapkan dalam diskusi interaktif yang membedah fenomena digital well-being dan masa depan manusia.
Ketua Pelaksana, Dr. Miswar, M.Ag., memaparkan bahwa tujuan utama acara ini untuk memicu daya kritis mahasiswa agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga penggerak yang tetap memegang teguh etika.
“Kami ingin mahasiswa sadar bahwa di balik kemudahan teknologi zaman sekarang, ada tanggung jawab besar untuk menjaga sisi kemanusiaan. Identitas digital kita haruslah menjadi cerminan nilai budaya yang positif, bukan sekadar mengikuti tren tanpa arah,” ungkapnya.
Sebagai bentuk implementasi dan efeisiensi teknologi, seluruh peserta mendapatkan e-sertifikat yang terkirim secara otomatis melalui sistem manajemen acara yang dikembangkan oleh panitia, ini membuktikan bahwa teknologi tetap bisa berada dalam kendali manusia untuk tujuan yang bermanfaat.
Acara ini diakhiri dengan penandatanganan MoA antara STAI Tgk. Chik Pante Kulu dan Fakultas Syari’ah UIN Arraniry.









