KUALA SIMPANG – Tim dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Jawa Timur melaksanakan program pendampingan psikososial berbasis seni dan budaya lokal kepada para korban banjir Provinsi Aceh yang melanda di beberapa daerah.
Program yang dilaksanakan melalui skema Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut mengusung tema “Penyembuhan Trauma Anak Korban Banjir di Aceh melalui Art Therapy dan Permainan Terapeutik Berbasis Budaya Lokal.”
Kegiatan ini berlangaung di Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang beberapa waktu lalu.
Ketua Tim PKM, Prof Dr Mochamad Nursalim kepada media ini, Kamis (16/4) menebukan, tim ini yang terdiri dari Dr Wiryo Nuryono, Sherrin Nurlita Widya, dan Restu Dwi Ariyanto, serta melibatkan mahasiswa.
Katanya, program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) untuk memastikan intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan korban di lapangan.
Prof Nursalim menjelaskan, pendampingan dilakukan kepada anak-anak korban bencana termasuk kelompok yang paling rentan mengalami trauma psikologis.
“Pengalaman menghadapi banjir dapat memunculkan berbagai gejala seperti kecemasan, ketakutan berulang, sulit tidur, hingga menurunnya konsentrasi belajar,” kata Prof Nursalim.
Dikatakannya, namun layanan pendampingan psikososial bagi anak-anak di lokasi bencana sering kali masih terbatas.
Karena itulah ungkapnya, tim UNESA memulai kegiatan dengan melakukan need assessment untuk memetakan kondisi psikologis anak-anak terdampak.
Lebih lanjut Prof Nursalim menjelaskan, hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam merancang bentuk intervensi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak sekaligus mempertimbangkan konteks budaya masyarakat setempat.
Ia menuturkan, salah satu pendekatan utama dalam program ini adalah art therapy atau terapi seni.
“Melalui kegiatan menggambar dan melukis, anak-anak diajak mengekspresikan pengalaman serta perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata,” ungkapnya.
Prof Nursalim mengatakan, metode ini tidak hanya membantu anak menyalurkan emosi negatif, tetapi juga melatih kemampuan regulasi emosi serta membangun kembali rasa aman setelah mengalami bencana.
Disampaikannya, selain memberikan kegiatan kepada anak-anak, tim juga memberikan pelatihan kepada relawan dan pendamping lokal agar mereka mampu melanjutkan praktik terapi seni secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Kemudian tambah Prof Nursalim, dengan melakukan permainan tradisional untuk memulihkan keceriaan.
Cara ini katanya, pendekatan pemulihan tidak hanya dilakukan melalui seni. tim juga memanfaatkan berbagai permainan tradisional Aceh sebagai media terapi.
“Permainan dilakukan secara berkelompok sehingga anak-anak dapat kembali merasakan keceriaan, membangun interaksi sosial, serta memperkuat rasa kebersamaan yang sempat terganggu akibat bencana,” ujarnya.
Pendekatan berbasis budaya lokal dipilih karena lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan mampu menghadirkan suasana yang akrab bagi anak-anak.
Prof Nursalim menegaskan, komitmen perguruan tinggi melalui integrasi terapi seni dan permainan tradisional, UNESA berupaya menghadirkan model pemulihan trauma yang kreatif sekaligus kontekstual.
Diharapkannya, program ini dapat membantu anak-anak korban banjir di Aceh kembali merasa aman, percaya diri, dan mampu melanjutkan proses tumbuh kembangnya secara optimal.










