Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Timur

Pemerintah Aceh Diminta Bersikap Kritis Soal Pengelolaan Blok Andaman

redaksi by redaksi
02/06/2026
in Lintas Timur
0
Pemerintah Aceh Diminta Bersikap Kritis Soal Pengelolaan Blok Andaman

Banda Aceh —Penemuan cadangan gas raksasa di Blok South Andaman, Aceh, yang diperkirakan mencapai lebih dari 8–10 Trillion Cubic Feet (TCF) menjadi salah satu temuan energi terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.

Namun di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan besar dari masyarakat Aceh: apakah rakyat Aceh akan benar-benar menikmati hasilnya, atau justru kembali menjadi korban eksploitasi sumber daya alam seperti yang terjadi pada era Arun?

Ketua DEMA Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, M. Ikram Al Ghifari, menilai bahwa Aceh memiliki alasan kuat untuk bersikap kritis terhadap setiap kebijakan pengelolaan gas Andaman.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa Aceh pernah menjadi salah satu tulang punggung energi nasional melalui ladang gas Arun. Data menunjukkan bahwa pada periode puncaknya, Arun menyumbang sekitar 30 persen produksi LNG Indonesia, bahkan menjadi salah satu sumber keuntungan terbesar dalam industri migas nasional saat itu. Total produksi Arun tercatat mencapai lebih dari 16 TCF gas dan sekitar 700 juta barel kondensat sepanjang masa produksinya.

“Aceh pernah memberi begitu banyak kepada republik ini. Gas Arun menjadi salah satu fondasi ketahanan energi Indonesia selama puluhan tahun. Namun pertanyaannya, apakah Aceh mendapatkan kesejahteraan yang setara dengan kekayaan yang diambil dari tanahnya? Fakta hari ini menunjukkan masih tingginya kemiskinan, pengangguran, dan ketergantungan ekonomi di Aceh,” tegas M. Ikram Al Ghifari.

Ia menilai bahwa narasi pembangunan nasional tidak boleh lagi dijadikan alasan untuk mengulang pola lama yang menempatkan Aceh hanya sebagai daerah penghasil bahan mentah.

Saat ini, Mubadala Energy dan mitranya tengah mempercepat pengembangan proyek South Andaman dengan target produksi awal pada tahun 2028. Bahkan pemerintah pusat menyebut cadangan gas Andaman sebagai salah satu penemuan terbesar di Asia Tenggara yang akan menjadi penopang swasembada energi nasional.

Namun Ikram menegaskan bahwa keberhasilan proyek tersebut tidak boleh hanya diukur dari berapa besar gas yang berhasil diproduksi atau berapa besar pendapatan negara yang diperoleh. “Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat Aceh. Jika gas Andaman hanya dialirkan keluar daerah, diolah di luar Aceh, sementara masyarakat Aceh hanya menerima dampak lingkungan dan janji-janji ekonomi, maka itu bukan pembangunan. Itu eksploitasi dengan wajah baru.”

Ia juga menyoroti fakta bahwa hingga hari ini Aceh belum memiliki basis industri hilirisasi migas yang kuat, padahal daerah ini pernah menjadi pusat industri LNG terbesar di Indonesia melalui kawasan Arun.

Menurutnya, gas Andaman seharusnya menjadi momentum kebangkitan industri Aceh melalui pembangunan kilang, petrokimia, pembangkit listrik, serta penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda Aceh.

“Jangan lagi Aceh hanya dijadikan sumur. Jangan lagi Aceh hanya dijadikan tempat mengambil bahan mentah untuk dikirim ke daerah lain. Jika cadangan Andaman mencapai 10 TCF dan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, maka Aceh berhak menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dari proyek tersebut.”

Lebih lanjut, M. Ikram Al Ghifari meminta pemerintah pusat untuk membuka secara transparan skema pengelolaan, distribusi, serta pembagian manfaat ekonomi dari proyek Andaman kepada publik Aceh.

“Rakyat Aceh tidak boleh hanya dijadikan penonton yang mendengar angka-angka fantastis triliunan kaki kubik gas setiap tahun. Kami ingin tahu berapa yang kembali kepada Aceh. Berapa industri yang dibangun. Berapa tenaga kerja Aceh yang diserap. Berapa manfaat nyata yang diterima masyarakat.”

Ia menegaskan bahwa generasi muda Aceh akan terus mengawal proyek tersebut agar tidak mengulang sejarah panjang ketimpangan pengelolaan sumber daya alam di Aceh.

“Kami tidak anti investasi. Kami tidak anti pembangunan nasional. Tetapi kami menolak jika Aceh kembali dijadikan lumbung yang terus diambil hasilnya tanpa memperoleh keadilan. Gas Andaman harus menjadi simbol kebangkitan ekonomi Aceh, bukan simbol baru penjajahan ekonomi terhadap tanah yang selama ini terus memberi kepada negara.”

Previous Post

Hayeu, Pemko Banda Aceh Cairkan Gaji Ke-13 ASN Mulai Juni 2026

Next Post

Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA

Next Post
Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA

Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

STAIN Meulaboh Seleksi Ratusan Calon Mahasiswa Baru Jalur UM-PTKIN 2026

STAIN Meulaboh Seleksi Ratusan Calon Mahasiswa Baru Jalur UM-PTKIN 2026

09/06/2026
UIN Ar-Raniry Jadi PTKIN Paling Diminati di Sumatera, 2.640 Peserta Ikuti UM-PTKIN

UIN Ar-Raniry Jadi PTKIN Paling Diminati di Sumatera, 2.640 Peserta Ikuti UM-PTKIN

09/06/2026
Cita-cita Anak Desa Jadi Bupati

Cita-cita Anak Desa Jadi Bupati

08/06/2026
Syeh Do: Rapai Uroh Miliki Harmoni Unik yang Tidak Dimiliki Kesenian Lain

Syeh Do: Rapai Uroh Miliki Harmoni Unik yang Tidak Dimiliki Kesenian Lain

08/06/2026
Dr. Safaruddin Minta Perumdam Tirta Abdya Fokus Tingkatkan Kualitas Pelayanan

Dr. Safaruddin Minta Perumdam Tirta Abdya Fokus Tingkatkan Kualitas Pelayanan

08/06/2026

Terpopuler

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

04/06/2026

Pesantren Jadi Lokomotif Pertanian Modern, IPB Kenalkan Varietas Padi Cerdas Iklim di Pidie Jaya

Sawah Tertimbun Lumpur Banjir Disulap Jadi Sentra Bawang Merah, Upaya Pemulihan Ekonomi Petani Pidie Jaya

HUT Pidie Jaya 2026: Antara Perayaan, Pemulihan Pascabencana dan Penguatan Syariat

Pesantren Modern Al Zahrah Tingkatkan Kompetensi Guru Asuh melalui Program Penguatan Tahsin

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com