Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, memperkenalkan sejarah Taman Putroe Phang dan hubungan historis Aceh dengan Pahang, Malaysia, kepada rombongan wisatawan Malaysia saat Pembukaan Banda Aceh Art and Cultural Market Putroe Phang di Taman Putroe Phang, Sabtu (18/7/2026).
Dalam sambutannya, Illiza mengisahkan asal-usul Taman Putroe Phang yang erat kaitannya dengan kisah cinta Sultan Iskandar Muda dan Putroe Phang, permaisuri yang berasal dari Pahang.
Ia menjelaskan, setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang, Putroe Phang dibawa ke Aceh dan diangkat menjadi permaisuri. Untuk mengobati kerinduan sang permaisuri terhadap kampung halamannya, Sultan membangun Gunongan beserta taman sebagai simbol kasih sayang.
“Ini adalah taman cinta Sultan Iskandar Muda kepada Putroe Phang. Gunongan dan taman ini menjadi bukti besarnya kasih sayang beliau kepada permaisurinya,” ujar Illiza.
Menurutnya, kawasan Gunongan dan Taman Putroe Phang menjadi salah satu peninggalan sejarah penting yang merepresentasikan kedekatan hubungan Aceh dan Pahang sejak masa Kesultanan Aceh.
Illiza juga mengajak para tamu asal Malaysia untuk melihat bahwa ikatan sejarah tersebut menjadi fondasi hubungan budaya antara masyarakat Aceh dan Malaysia yang masih terjalin hingga saat ini.
Salah seorang wisatawan asal Johor, Malaysia, Kamariah, mengaku senang mendapat kesempatan menghadiri pembukaan Banda Aceh Art and Cultural Market Putroe Phang. Ia mengaku terkesan dengan pertunjukan seni dan budaya yang disuguhkan selama acara berlangsung.
“Kami sangat teruja dan terhibur dapat melihat seni budaya yang ditampilkan pada kegiatan ini. Acara ini bagus sekali. Kami akan mempromosikan kegiatan ini saat nanti pulang ke Johor,” ujarnya.
Kamariah mengatakan, melalui kegiatan tersebut dirinya juga memperoleh pengetahuan baru mengenai kedekatan sejarah antara Aceh dan Malaysia melalui kisah Putroe Phang dan Sultan Iskandar Muda.
Ia berharap kegiatan seni dan budaya seperti ini terus digelar sebagai media untuk mempererat hubungan masyarakat serumpun sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Aceh kepada wisatawan mancanegara.










