Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Obat Penangkal Wabah Ta’eun dalam Catatan Snouck

Admin1 by Admin1
25/03/2020
in Sejarah
0
Obat Penangkal Wabah Ta’eun dalam Catatan Snouck

Oleh: Zahrul Fadhi Johan

MENDENGAR kata Snouck, atau Snouck Hurgronje¸ pikiran kita mungkin akan langsung tertuju pada satu kalimat. Pemecah-belah bangsa Aceh. Kaphe atau sebagainya.

Sosok itu memang memiliki citra yang tidak baik di Aceh. Pandangan tadi kemungkinan diceritakan secara turut temurun di Aceh.

Namun dalam tulisan kali ini, kita tak sedang membahas sejarah hidup dan politik Antropolog Belanda itu untuk Aceh. Namun lebih ke wabah penyakit yang pernah menyerang Aceh, ratusan tahun yang lalu. Konon, sama seperti sekarang, wabah di Aceh pada zaman dulu begitu mematikan. Bahkan hampir mengosongkan Aceh.

Snouck turut menulis soal wabah ini dalam catatannya. Ia juga menulis soal obat yang diresepi masyarakat Aceh ketika terlimbas wabah tadi.

Sebagaimana yang diketahui, Antropolog berkebangsaan Belanda, dengan nama lengkap Christiaan Snouck Hurgronje pernah tinggal di Aceh. Ia datang ke Aceh berkisar 1857 hingga 1936. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan nama Teungku Puteh.

Ia bahkan menikahi warga local serta hidup dengan tradisi local pula. Snouck melakukan penelitian tentang hubungan agama dengan politik rakyat Aceh. Selama kurang lebih dua tahun (1891-1892), Snouck mempelajari berbagai perilaku masyarakat Aceh yang hidup di pesisir pantai dan dataran tinggi Aceh.

Selama melakukan penelitian, banyak hal dan perilaku masyarakat Aceh yang ia temukan. Mulai dari adat istiadat, bahasa, sosial politik, tata cara beragama, sampai dengan cara pengobatan dan jenis obat yang digunakan oleh masyarakat Aceh dalam menyembuhkan beragam penyakit.

Semua itu dituliskannya dalam beberapa buku, salah satunya tercantum pada buku The Achehnese yang terbit dalam dua jilid di Leyden (1906).

Kemudian buku tersebut diterbitkan kembali dalam versi bahasa Indonesia oleh Yayasan Soko Guru Jakarta (1985) dengan judul Aceh di Mata Kolonial Jilid I dan Jilid II.
Ia menulis soal wabah ta’eun. Karena masa masa tersebut wabah sedang menyerang Aceh serta turut menggrogoti kerajaan Aceh.

Dalam buku tersebut, Snouck Hurgronje (1985:52) menuliskan, ada empat macam jenis obat yang digunakan masyarakat Aceh untuk menyembuhkan penyakit ta’eun.
Pertama, penyakit ta’eun dapat disembuhkan dengan cara minum air tebu yang dicampurkan dengan bubuk kunyit.

Kedua, penderita yang terjangkit bisa diberikan air beras yang dicampurkan dengan gambir. Ketiga, ekstrak pinang tumbuk juga dianggap efektif untuk menyembuhkan pasien yang terjangkit ta’eun. Dan keempat, air jambu biji yang sudah dipanggang lalu diminum.

Keempat jenis obat di atas sebagai ramuan tradisional yang digunakan masyarakat tradisional Aceh untuk menyembuhkan penyakit ta’eun.

Ramuan-ramuan ini dianggap sangat efektif untuk menyembuhkan penyakit epidemi bagi pasien yang terserang ta’eun pada masa itu.

Berkilas dari catatan Snouck Hurgronje, masyarakat dunia saat ini sedang dihadapkan dengan kecemasan dan rasa pilu yang mendalam akibat penyebaran virus corana yang berasal dari kota Wuhan Provinsi Hubei China. Sejak kemuculannya pada akhir 2019, penyakit epidemi ini menyebar begitu cepat keberbagai negara di belahan dunia.

Berdasarkan laporan Worldometer, hingga penulis menuliskan tuliskan ini, setidaknya sudah sekitar 337,570 kasus dari total 192 Negara yang terjangkit dengan angka kematian mencapai 14,655, termasuk Indonesia yang sudah melaporkan sebanyak 524 kasus.

Oleh beberapa negara yang tingkat penyebarannya tinggi, mereka mengambil kebijakan lockdown untuk mengantisipasi agar penyebaran virus ini tidak meluas dan memakan banyak korban.

Virus ini dapat menular kepada siapapun. Penyebaran dan penularannya begitu cepat, baik melalui udara maupun akibat sentuhan dan kontak fisik dengan barang dan penderita yang sudah terjangkit Covid-19.

Selama virus corona menyebar secara masif, berbagai usaha sedang diupayakan oleh masyarakat dunia agar terhindari dari penularan secara lebih luas terhadap manusia yang hidup di bumi. Disamping itu, para ilmuwan di bidang medis sedang berupaya menemukan bermacam obat penangkal bagi penderita yang telah dinyatakan positif terjangkit Covid -19.

Hanya saja, obat penangkal masih sulit ditemukan, hal ini terbukti dengan jumlah kasus yang semakin hari semakin banyak ditemukan dibelahan dunia. Kasus yang pada awalnya hanya terjangkit di kota Wuhan China, kini sudah merambah ke 192 Negara di Dunia, dan wabah ini pun sudah dijadikan sebagai pandemi global.

Dengan demikian, bagi masyarakat dunia khususnya masyarakat Aceh yang belum terjangkit dengan Covid -19, sebaiknya kita berupaya untuk menghindari hal-hal yang dianggap dapat menularkan virus ini kepada diri sendiri dan orang lain. Selain itu, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengkonsumsi ramuan tradisional, sebagaimana pengalaman masyarakat tradisional Aceh dalam upaya menyembuhkan penyakit epidemi berjenis ta’eun.

Penulis adalah Dosen Ilmu Budaya ISBI Aceh, dan Aktif di Lembaga Seuramoe Budaya
Email: zahrulfadhijohan@gmail.com

Tags: ta'eunta'eun ijak brokwabah di aceh
Previous Post

Kasus Pertama Coronavirus Infeksi Petinju dan Pelatih di Turki

Next Post

Syech Fadhil Gagas Gerakan Tiada Hari Tanpa Sedekah

Next Post

Syech Fadhil Gagas Gerakan Tiada Hari Tanpa Sedekah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Prodi KPI UIN Madura dan STAIN Meulaboh Sorot Komunikasi Publik Pemerintah Melalui Webinar Kolaborasi

Prodi KPI UIN Madura dan STAIN Meulaboh Sorot Komunikasi Publik Pemerintah Melalui Webinar Kolaborasi

26/06/2026
Kejari Banda Aceh Tahan Dua Tersangka Pelanggaran Syariat Islam

Kejari Banda Aceh Tahan Dua Tersangka Pelanggaran Syariat Islam

26/06/2026
Tertibkan Aktivitas Tambang, Pemkab Aceh Jaya Ajukan Penetapan WPR ke Pemerintah Aceh

Tertibkan Aktivitas Tambang, Pemkab Aceh Jaya Ajukan Penetapan WPR ke Pemerintah Aceh

26/06/2026
Aceh Tengah Kembali Terima Alkes Bantuan Kemenkes Untuk Daerah Terdampak Bencana

Aceh Tengah Kembali Terima Alkes Bantuan Kemenkes Untuk Daerah Terdampak Bencana

26/06/2026
PP KAMMI Tegaskan Muhammad Amri Akbar Telah Resmi Dipecat

PP KAMMI Tegaskan Muhammad Amri Akbar Telah Resmi Dipecat

26/06/2026

Terpopuler

Obat Penangkal Wabah Ta’eun dalam Catatan Snouck

Obat Penangkal Wabah Ta’eun dalam Catatan Snouck

25/03/2020

Kuah Pliek U dan Tawa: Saat Keluarga Besar Al Zahrah Pupuk Silaturrahmi

Dugaan Mark Up Arena MTQ Aceh Mengemuka, Aktivis Mahasiswa Minta APH Telusuri Aliran Anggaran

34 Tim akan Meriahkan Lomba Masak Bubur Asyura dan Teut Apam di Aceh Besar

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com