“Tramp,….gedebukk..” Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang cafe. Bunyinya cukup keras. Seperti ada peralatan yang jatuh.
“Set…” Beberapa kursi juga terdengar bergeser serentak. Suara langkah terdengar berat.
“Mereka terlatih,” pikirku.
Aku berdiri dan menolek ke arah suara. Sedangkan Rusli dan Mustafa mundur. Aura mencekam dari arah belakang cafe cukup membuat nafas kami tercekik.
“Kok ada aura membunuh yang sangat pekat dari sana,” gumamku dalam hati.
“Setidaknya ada belasan aura membunuh disana.”
Firasatku selama ini tak pernah salah. Meski telah pensiun dari Tentara Nanggroe hampir dua puluh tahun lamanya, aku masih bisa merasakan sinyal peringatan dari bahaya yang kemungkin muncul. Demikian juga dengan saat ini.
Aura seperti ini tak mungkin milik para eks kombatan yang telah lama pensiun.
“Siapa mereka? Bukankah sekarang era damai? Kok bisa ada belasan orang dengan aura membunuh di sini?” gumamku lagi.
“Sebenarnya ada apa dengan Aceh sejak aku merantau?”
Dari belakang, Iwan terlihat berlari menuju ke arah kami. “Cuma salah paham, Pakwa,” ujarnya tiba-tiba.
Aku tak peduli dengan perkataan Iwan. Tak peduli juga dengan reaksi Rusli dan Mustafa. Saat itu, aku tiba-tiba sadar sesuatu.
Aku kemudian menjongkok dan memeriksa bawah meja dengan teliti. Mataku tiba tiba melihat benda hitam berukuran kecil di sana.
“Ternyata benar. Perekam suara,” gumamku dalam hati.
Aku mencopot benda itu dan memperlihatkan ke arah lawan bicara. Mataku mengarah tajam. “Ini yang kalian sebut salah paham,” ujarku kemudian dengan nada sedikit lebih tinggi.
Rusli tak berani menatap mataku. Matanya menunduk. Ini berarti ia dalam kondisi bersalah. Sedangkan Mustafa tergagap. Dua tangannya terangkat setengah badan mencoba menenangkanku.
“Ia, guree. Ini hanya salah padam,” ujar Iwan.
“Aku bersumpah atas nama Tuhan, bahwa kami tak memiliki niat buruk terhadapmu sedikitpun,” katanya lagi.
Sorot mata Iwan terlihat tak ada keraguan di sana. Aku terdiam beberapa saat hingga akhirnya menarik nafas panjang. “Mereka yang di belakang adalah pengawal tamu yang ingin bertemu dengan gure malam ini,” kata Iwan.
“Duduk dulu, pang. Aku akan menjelaskan secara lengkap sekarang,” kata Mustafa kemudian.
Aku luluh. Aku membetulkan kursi dan kembali duduk di kursi yang sama. “Sebenarnya siapa tamu penting di belakang? Tamu mana yang memiliki belasan pengawal dengan aura membunuh,” ujarku.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 2
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 3
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 4
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 5
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)








![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)