GUSTI dan Henky baru tiba di rumah Bulek jelang sore. Ini karena Gusti awalnya ngotot tak mau membawa serta Henky untuk menginap di rumah Bulek Rani. Ia tak mau membesarkan serigala yang melahap dirinya sendiri. Tapi akhirnya Henky berhasil meluluhkan hati Gusti. Mereka akhirnya baikan. Masing-masing menggendong tas besar berisi baju dan keperluan harian lainnya.
Saat itu, Rindu terlihat berdiri di pintu masuk. Ia menyambut Gusti dan Henky dengan senyuman manis. Gusti nyaris terbuai. Sedangkan Henky justru ketakutan.
“Kamu gak marah lagi?”tanya Gusti hati-hati. Rindu mengangguk.
“Sesama muslim, gak boleh marahan lebih dari tiga hari. Ini mau masuk hari ketiga. Jadi enggak boleh marah lagi,” jelas Rindu singkat. Ia kemudian jalan kaki menelusuri komplek.
Gusti segera memarkir sepeda motornya di garasi. Kedua tas digantung di stang. Mereka kemudian mengejar Rindu dari arah belakang.
“Jernih juga pikirannya ya Gus? Rugi aku ketakutan tadi,” kata Henky sambil lari-lari kecil.
Gusti mendekati Rindu. Ia mengiringi langkah Rindu di sebelah kanan. Gusti sengaja memberi ruang beberapa meter agak gadis itu tak risih.
“Mau kemana?” tanya Gusti lagi.
“Malioboro. Cuma sekedar jalan-jalan,” jawab Rindu lagi.
“Kami temeni ya,” ujar Henky di sisi kiri. Rindu mengangguk setuju.
“Kalian warga lokal sini. Rindu sangat terbantu kalau Mas Gusti dan Mas Henky jadi Tour Guide. Rindu masih gamang dengan suasana di sini,” ujarnya kemudian.
“Kami bukan dari sini. Kami asal Sleman. Keluarga besar Gusti dan Bulek tinggal di sana. Kami juga kos di Yogya di Sendowo,” ralat Henky.
Rindu tersenyum mendengarkan klarifikasi Henky. “Bagi Rindu, semua warga asli adalah Yogya. Sebelum datang ke Yogya, Rindu hanya mendengar nama kota ini dari cerita-cerita Ayah ketika malam tiba. Saat ayah menemani tidur. Ayah sering menceritakan keindahan Yogya dan keramahtamahan warga local-nya. Ini pula yang membuat Rindu memutuskan masuk UGM. Sama sepertinya saat muda,” jelas Rindu panjang lebar.
Langkah Gusti tiba tiba melamban.
“Jadi kamu sama sekali tak ingat pernah tinggal di Yogya? Pernah tinggal bersama Bulek dan Paklek?”tanya Gusti.
Rindu kembali menggeleng. “Mungkin karena saat itu masih kecil. Memori terbatas. Rindu hanya ingat kalau Ayah pernah cerita, ia pernah buka usaha kecil-kecilan di Yogya tapi tak sampai setahun. Kami kemudian pindah ke Malaysia. Sejak itu, kami berdua tinggal di sana.”
“Bangkrut?”tanya Henky. Rindu menggeleng dan terdiam.
“Kapan itu?Tahunnya maksudku,” ujar Henky lagi.
Rindu terdiam. “Sekitar 2013. Saat itu, Rindu masih berumur 4 atau 5 tahun.”
Gusti terdiam. Penjelasan Rindu sesuai dengan foto terakhir yang dilihat dalam kamar Rindu. Gusti sadar ada banyak rahasia seputar Rindu dan Bulek yang belum terungkap. Gadis itu juga belum pernah sekalipun menyebutkan ibu-nya. Tapi masih ada waktu untuk mengungkapkan kisah tersebut.
“Jadi sekolah dasar hingga atas di Malaysia,” selidik Gusti. Rindu mengangguk.
“Cuma berdua?” tanya Gusti. Rindu kembali mengangguk dan kemudian tersenyum, Rindu berjalan sambil lompat-lompat kecil ala kelinci. Seolah tanpa beban dan masalah dalam hidup.
“Siapa sangka. Bocah gembul dan ompong di masa lalu, bisa tumbuh menjadi gadis sesempurna ini ya Gus? Aku kayaknya akan benar-benar bersaing denganmu,” ujar Henky pelan.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 26
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 27
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 28
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 29
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 30
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)








