Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Dialog Deradikalisasi Hadirkan Mantan Teroris Jalin

Admin1 by Admin1
07/12/2019
in Nanggroe
0

BANDA ACEH- Perhimpunan Intelektual Muda Aceh (Pintu Aceh) menggelar dialog memahami deradikalisasi sebagai upaya menangkal masuknya paham radikal di Aula Fakultas Fisip, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (28/11). Dialog tersebut menghadirkan Wakil Ketua Yayasan Jalin Perdamaian, Surya Achda, yang merupakan mantan teroris Jalin.

Ketua Perhimpunan Intelektual Muda Aceh, Husni Fahrizal, mengatakan maraknya aksi terorisme di Indonesia sangat mengkhawatirkan sehingga pihaknya tergugah untuk menggelar dialog tersebut.

“Teroris merupakan tindakan yang memiliki akar keyakinan, doktrin dan ideologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat,” kata Husni.

Wakil Ketua Yayasan Jalin Perdamaian, Surya Achda, dalam pemaparannya sebagai narasumber mengatakan, semua mantan narapidana dari kasus yang berhubungan terorisme, terutama kasus Jalin, Aceh Besar, kini tergabung dalam satu Yayasan yang dibentuk dari inisiasi BNPT, yaitu Yayasan Jalin Perdamaian.

Ia menceritakan pengalaman soal kemunculan kelompok Jalin yang dimulai setelah pihaknya berkenalan dengan jaringan terorisme dari luar negeri sehingga mereka berencana membentuk suatu gerakan yang sama di Aceh.

“Kami pernah buat kegiatan pemberangkatan relawan ke Palestina Jalur Gaza walau akhirnya batal karena berbagai faktor, padahal sudah terkumpul dana sekitar 1,4 Milyar untuk bantuan yang kami kumpulkan di jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk. Akhirnya dana bantuan itu kami gunakan untuk melakukan latihan, yang kemudian menjadi ide awal pembentukan jaringan di Jalin Jantho,” ujar Surya.

Surya juga menjelaskan, kelompoknya yang berjumlah 50 orang di Jalin bahkan sempat mengatur rencana menyerang Polsek, meskipun kemudian tidak terjadi. Namun ia menyadari, pelatihan Jalin lebih terasa sebagai sebuah piknik yang menghambur-hamburkan uang karena banyaknya dana sumbamgan yang mereka miliki.

“Kalau boleh jujur mungkin pelatihan teroris di Jalin saat itu mungkin jadi latihan paling enak, dan terasa piknik karena uang yang berlimpah, tiap minggu kami turun ke Peunayong untuk belanja dan bawa duit lebih kurang 100juta,” katanya.

Menurut Surya, paham radikal muncul di berbagai negara karena kesalahan menafsirkan ajaran agama. Tujuannya, lanjut Surya, adalah ingin mengubah paham suatu negara, dari berbagai system yang ada di dunia menjadi satu system yaitu system Islam. Bagi mereka instansi-instansi negara dan aparaturnya adalah musuh yang harus diperangi.

“Sebagai contoh ISIS, ada banyak tahapan dakwah yang mereka langgar seperti contoh seharusnya ada tahapan lembut untuk melakukan pendekatan pada orang yang jauh dari agama untuk kembali pada Allah, sementara bagi ISIS mereka hanya memilih satu jalan yaitu membunuh mereka semua,” kata Surya.

Sementara itu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Banda Aceh Abdul Syukur dalam penjelasannya mengatakan, radikalisme itu paling dekat dengan Intoleransi, yang kemudian akan mengakibatkan kehidupan yang tidak rukun.

“Hidup rukun adalah keadaan yang ingin dicapai oleh semua penganut agama. Lalu kenapa muncul tidak toleran dan radikalisme? Itu adalah awal dari ketika seseorang rendahnya Pendidikan dan pemahaman,” kata Abdul.

Abdul juga mengatakan, faktor seseorang menjadi intoleran yang kemudian menjadi radikal, terutama diakibatkan oleh alur politik, emosi keagamaan, dan yang paling dominan adalah kebijakan pemerintah.

Dialog itu diharapkan memberi pemahaman kepada generasi muda Indonesia, khususnya Aceh, agar mampu menyadari potensi negatif cikal-bakal lahirnya paham radikalisme. []

Previous Post

Polres Langsa Amankan IRT Kurir Sabu Seberat 25,25 Gram

Next Post

Prof Farid Jadi Penceramah Maulid di MTsN Model

Next Post

Prof Farid Jadi Penceramah Maulid di MTsN Model

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Koplo Comunity Gelar Working Abroad Series: Mengupas Jalan Menuju Karier Global dari MIT hingga Amazon

Koplo Comunity Gelar Working Abroad Series: Mengupas Jalan Menuju Karier Global dari MIT hingga Amazon

20/06/2026
Menko PMK Minta Percepatan Implementasi Rehab Rekon Pascabencana di Aceh

Menko PMK Minta Percepatan Implementasi Rehab Rekon Pascabencana di Aceh

20/06/2026
Pemkab Aceh Besar Siapkan Enam Usulan WBTb untuk Penetapan 2027

Pemkab Aceh Besar Siapkan Enam Usulan WBTb untuk Penetapan 2027

20/06/2026
NasDem Siap Kawal Keberlanjutan Otsus Aceh Melalui UUPA

NasDem Siap Kawal Keberlanjutan Otsus Aceh Melalui UUPA

20/06/2026
Drama Penalti di Tengah Hujan, Satreskrim Polres Pidie Rebut Gelar Juara Trofeo PM ke-80

Drama Penalti di Tengah Hujan, Satreskrim Polres Pidie Rebut Gelar Juara Trofeo PM ke-80

20/06/2026

Terpopuler

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

19/06/2026

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

Haji Kamaruddin Terpilih sebagai Ketua Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

Rian Firmansyah Dorong Seniman Aceh Jadikan Budaya sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com