Oleh: Asnawi Zainun,Tokoh Aceh Besar.
Banda Aceh- Ini gambar gerbang barat Kopelma Darussalam di malam hari. Meski nampak kurang terawat, namun tetap terlihat gagah, indah dan anggun.
Photo: Wahed Darussalam
Jika diamati, sepertinya arsitektur bangunan gerbang ini mengadopsi gaya bangunan Pintô Khôp dan Gunöngan, dua bangunan masa keurajaan Aceh Darussalam yang kini dapat dipandang sebagai “Monumen Cinta” Sultan Iskandar Muda dan sang Permaisuri Putri Kamaliah atau Putroe Phang.
Bangunan pintu gerbang kopelma Darussalam ini dibangun melintas di atas ruas jalan utama yang menghubungkan pusat kota Banda Aceh dengan beberapa kecamatan di Aceh Besar terutama kecamatan Darussalam dan Kuta Barô. Jika tidak salah pembangunan dilakukan pada tahun 2003 atas inisiatif dan anggaran Universitas Syiah kuala.
Dalam rentang sejarah panjang, ruas jalan ini merupakan salah satu ruas jalan tertua di ibukota kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Jauh lebih tua dari usia kampus Darussalam yang dibangun pada tahun 1959. Jalan inilah yang menjadi sarana penghubung antara ibukota Bandar Aceh Darussalam dengan wilayah Ulè Balang IX Mukim Tungkob dan Ulè Balang III Mukim Lamraboe dan sekitarnya.
Pada masa pendudukan Belanda, di ujung timur jembatan Lamnyong, atau dalam nama lokal disebut kawasan Paya Bieng, dibangun rumah kediaman Panglima Sagoe XXVI Mukim Teuku Nyak Arief bin Teuku Nyak Banta.
Orang-orang tua dahulu menceritakan, jika rakyat jelata dari IX Mukim Tungkob dan sekitarnya melintas di depan rumah sang Panglima Sagoe itu, baik penjalan kaki, berkuda atau bersepeda harus turun membungkukkan badan pertanda takzim.
Pembangunan gerbang kampus yang memotong di atas badan jalan penghubung antara beberapa kecamatan di Aceh Besar dengan kota Banda Aceh itu, terkadang menimbulkan sepenggal pertanyaan di lubuk hati masyarakat sekitar. Di tengah semakin mengentalnya egoisme kepemimpinan kampus saat ini, akankah suatu waktu gerbang ini ditutup untuk akses masyarakat sekitar. Padahal masyarakat sekitar telah menggunakan jalan ini jauh sebelum Kopelma Darussalam di bangun.
Tentunya, kita sangat mengharapkan penutupan akses itu tidak akan terjadi, dan tidak akan pernah terjadi, sebab jika terjadi, maka dapat dipastikan akan menimbulkan gejolak yang panas dan meluas di tengah tengah masyarakat.
“pantang peudeung meubalék sarông
pantang reuncông meubalék mata
pantang ureung jipeukabèh kawôm
tulông teumulông bila meubila-bila”
Namun, yang kita harapkan, justru gerbang si Jantông Haté berkenan menebar cinta. Ya, ketika mengadopsi bangunan Pintô Khôp dan Gunöngan, maka semestinya semangat yang mengental di kampus Darussalam adalah semangat cinta dan kasih sayang, bukan dengki dan kebencian. Semangat kebersamaan bukan semangat perpecahan..! Semoga..! []









