Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Perempuan China Ogah Ikuti Kebijakan Xi Jinping Lahirkan Tiga Anak

Admin1 by Admin1
10/01/2022
in Internasional
0

Jakarta – Sejumlah perempuan di China ogah mengikuti kebijakan Presiden Xi Jinping soal program baru guna meningkatkan angka kelahiran dan menekan angka populasi lansia, dengan mewajibkan tiga anak dalam satu keluarga.

“Saya tak bisa punya anak lagi. Membesarkan satu anak seperti memasukkan uang Anda ke dalam mesin penghancur kertas. Tak mungkin saya bisa punya (anak) yang lain,” kata salah satu pekerja industri Li di pusat kota Changsha kepada Radio Free Asia pekan lalu.

Salah satu perempuan yang usianya masih tergolong muda, baru tiga tahun, Qiu Xiojia, mengaku tak punya banyak biaya membesarkan anak.

“Kami sudah membeli rumah sekarang dan pembayaran hipotek bulanan lebih tinggi dari gaji bulanan saya. Jadi dari mana uang untuk membiayai anak?” kata Qiu.

Qiu kemudian melanjutkan, “Saya bahkan tak mampu membiayai satu anak, apalagi tiga.”

Di kota besar lain Chongqing, perempuan milenial bernama Ma Jing dan suaminya tak punya rencana untuk punya anak. Meskipun ia bekerja enam hari dalam seminggu di sebuah perusahaan teknologi.

“Saya hidup dari gaji, dan masih sangat bergantung pada orang tua saya. Properti yang saya tinggali milik mereka, saya mengendarai mobil ibu saya, dan saya masih tidak bisa menabung,” seloroh Ma Jing.

Salah satu perempuan di Shanghai, Li Dan, menyatakan sanggup membiayai anak, namun dia memilih untuk tak memiliki buah hati.

“Alasan utama bagi saya, seorang perempuan tua usia subur, tidak ada hubungannya dengan uang. Alasan utamanya karena saya perempuan lajang,” tutur Li Daan.

Membesarkan anak-anak di Cina merupakan hal yang mahal. Orang tua harus berusaha keras bahkan untuk membiayai pendidikan satu anak.

Sekolah-sekolah negeri pun semakin menuntut pembayaran nominal dalam berbagai jenis, serta pembayaran makanan dan kegiatan ekstrakurikuler.

Xi mengatakan pendidikan dan bimbingan harus diberikan untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai keluarga di antara kaum muda usia pernikahan.

Untuk merealisasikan program itu, Politbiro menjanjikan insentif pajak dan perumahan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.

Dukungan lain yang dijanjikan yakni perbaikan perawatan sebelum dan sesudah melahirkan, layanan pengasuhan anak, dan pengurangan biaya pendidikan untuk keluarga.

Pada 2020, tingkat kesuburan China mencapai sekitar 1,3 anak per perempuan.

Kebijakan tiga anak adalah sesuatu yang tidak terduga, setelah Partai Komunis China membatalkan kebijakan satu anak. Kebijakan ini memunculkan pelanggaran hak asasi manusia selama beberapa dekade, termasuk aborsi paksa dan sterilisasi jangka panjang, serta pemantauan kesuburan perempuan secara luas oleh pejabat.

“Kebijakan itu tidak ada artinya tanpa gagasan tentang bagaimana mereka akan diterapkan dan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah,” ujar profesor Sejarah dan Studi Wanita dan Gender di Universitas Michigan, Wang Zheng.

Masalah utamanya adalah, Wang belum melihat dokumentasi pemerintah yang meninjau kesalahan kebijakan satu anak.

“Tanpa proses refleksi seperti itu, bagaimana mereka memastikan bahwa mereka tidak membuat kesalahan besar dalam kebijakan publik reproduktif?” lanjutnya.

Kebijakan banyak anak itu memunculkan kekhawatiran akan ‘represi’ negara terhadap perempuan.

Peneliti hukum Asia Universitas Georgetown, Zhao Sile, mengatakan cara-cara otoriter pernah digunakan untuk mengawasi sistem reproduksi perempuan dan membatasi kelahiran selama kebijakan satu anak. Cara-cara itu juga dapat digunakan untuk membuat mereka memiliki lebih banyak anak.

“Yang mengkhawatirkan, China bukan masyarakat demokratis, jadi ada kemungkinan tidak menyesuaikan kebijakannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Sebaliknya, itu mungkin menggunakan cara otoriter (untuk mengimplementasikannya). kata Zhao kepada RFA.

Langkah selanjutnya akan bergantung pada cara negara mengadopsi kebijakan yang lebih wajib soal persalinan. Misalnya, soal bonus dan promosi, pembatasan akses ke kontrasepsi dan aborsi.

Pada akhir Juni, Biro Statistik di kota Yueyang Hunan, mengeluarkan arahan yang meminta para pejabat mendorong pasangan untuk melahirkan, memperpendek jarak antara anak kedua dan ketiga.

“Sistem otoriter dan patriarki China sedang menghadapi konflik serius dengan evolusi perempuan modern yang lebih individualistis,” kata Zhao.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

BM IKAN Aceh Sosialisasi Bahaya Narkoba di RIAB

Next Post

Usai Dzikir dan Do’a, Asisten Sekda Sapa ASN di Wilayah Terdampak Banjir

Next Post

Usai Dzikir dan Do’a, Asisten Sekda Sapa ASN di Wilayah Terdampak Banjir

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Al-Farlaky Minta Camat Dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah

Al-Farlaky Minta Camat Dan Geuchik Uji Publik Ulang Data Penerima Bantuan Rumah

15/04/2026
Wagub Mohon Ulama Sampaikan Proses Pembangunan Aceh kepada Rakyat

Wagub Mohon Ulama Sampaikan Proses Pembangunan Aceh kepada Rakyat

15/04/2026
Plt Kadisdikbud: Penataan Kepala Sekolah di Aceh Selatan Mengacu Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025

Plt Kadisdikbud: Penataan Kepala Sekolah di Aceh Selatan Mengacu Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025

15/04/2026
Guru SMAN 1 Samadua Aceh Selatan Tanami Pohon Berbuah

Guru SMAN 1 Samadua Aceh Selatan Tanami Pohon Berbuah

15/04/2026
Rangkaian HUT Abdya ke-24, Pemkab Adakan Lomba Dalil Khairat

Rangkaian HUT Abdya ke-24, Pemkab Adakan Lomba Dalil Khairat

15/04/2026

Terpopuler

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

13/04/2026

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Krak, Warga Tak Terdata JKA Diberi Kesempatan Sanggah

Pemerintah Aceh Didesak Laporkan IUP PT. Linge Mineral Resource ke Pemerintah Pusat

Perempuan China Ogah Ikuti Kebijakan Xi Jinping Lahirkan Tiga Anak

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com