Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Wali Nanggroe Aceh Serukan Reformasi Tata Kelola Lingkungan dan Investigasi Menyeluruh atas Banjir Besar Aceh

redaksi by redaksi
04/12/2025
in Nanggroe
0
Soal Bendera Bulan Bintang, Wali Nanggroe: Kami Menunggu Saja

Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, saat berkunjung ke kediaman Jusuf Kalla di Jakarta Selatan, Selasa (17/6). (Foto: CNN Indonesia/Thohirin)

Banda Aceh – Dalam pidato memperingati Milad GAM ke-49, Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar menyampaikan seruan keras untuk melakukan pembenahan sistemik terhadap tata kelola lingkungan, penegakan hukum, dan reformasi kebijakan pembangunan pascabencana hidrometeorologi besar yang melanda Aceh.

Bencana tersebut berdampak luas melumpuhkan 18 kabupaten/kota di Aceh. Dalam pernyataannya yang tegas namun sarat empati, Wali Nanggroe menyampaikan duka mendalam atas hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, serta kerugian besar yang dialami masyarakat. Ia menegaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan harus memperkuat solidaritas dan memastikan tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan.

Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris menyebutkan, pada aspek penanganan darurat, Wali Nanggroe menekankan pentingnya evakuasi cepat, pembukaan akses distribusi logistik, upaya modifikasi cuaca bila memungkinkan, serta penyediaan layanan kesehatan sebagai prioritas utama. Ia memberikan perhatian khusus pada risiko penyakit pascabanjir dan meminta agar mitigasi epidemi dilakukan secara ketat, termasuk pengelolaan bangkai hewan, penyediaan air bersih, sanitasi darurat, serta pemetaan segera terhadap desa-desa yang terisolasi.

“Tidak boleh ada keterlambatan. Setiap menit menentukan keselamatan masyarakat,” ujarnya dalam seruan yang menekankan urgensi penanganan darurat di seluruh wilayah terdampak.

Wali Nanggroe menyoroti perlunya menghentikan deforestasi di wilayah hulu dan daerah aliran sungai, menerapkan tata ruang berbasis risiko bencana di seluruh kabupaten/kota, serta membangun infrastruktur pengendali banjir dan jembatan yang tahan terhadap kondisi ekstrem.

Ia juga menuntut pengendalian pencemaran air akibat pertambangan ilegal berbasis merkuri, memperkuat sistem peringatan dini berbasis sensor dan teknologi satelit, serta memberantas aktivitas tambang dan pembalakan liar melalui kolaborasi antara lembaga adat, pemerintah, dan aparat penegak hukum.

Wali Nanggroe menegaskan kembali peran penting masyarakat hukum adat, termasuk Panglima Uteun, sebagai penjaga hutan Aceh yang selama ini menjadi benteng mitigasi bencana. “Ekosistem Aceh bukan sekadar sumber daya alam; ia adalah sistem penyangga kehidupan,” tegasnya.

Salah satu instruksi paling signifikan adalah pembentukan Tim Investigasi Khusus untuk mengungkap akar penyebab banjir. Tim ini ditugaskan menelusuri jejak deforestasi, ekspansi perkebunan dan pertambangan besar-besaran, kerusakan daerah aliran sungai, sedimentasi sungai, serta pencemaran dan penyumbatan aliran air akibat limbah padat dan plastik.

Tim juga akan melakukan audit komprehensif terhadap konstruksi jembatan, tanggul, dan infrastruktur lain yang diduga tidak dibangun sesuai standar teknis sehingga menyebabkan kerusakan parah ketika banjir melanda. Investigasi ini akan melibatkan akademisi, pakar hidrologi, ahli lingkungan, aparat penegak hukum, dan unsur independen sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas publik.

Di bagian reflektif Wali Nanggroe mengenang 49 tahun perjalanan sejarah perjuangan Aceh dan menyampaikan penghormatan kepada para syuhada. Ia menegaskan bahwa tantangan Aceh hari ini bukan lagi peperangan bersenjata, melainkan kemiskinan, ketertinggalan, dan kerusakan lingkungan.

Ia juga menekankan bahwa nasionalisme Aceh tidak bertentangan dengan komitmen terhadap Negara Republik Indonesia, sebuah pesan moderat yang dinilai para pengamat penting bagi stabilitas politik Aceh ke depan.

Wali Nanggroe menyerukan agar tragedi banjir besar tersebut dijadikan titik balik untuk membangun Aceh yang lebih tangguh melalui penguatan pendidikan, pengembangan ekonomi rakyat, pemerintahan yang bersih, perlindungan terhadap adat dan lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim.

“Kita harus menjadikan pengalaman pahit ini sebagai titik balik,” pungkasnya.[]

Previous Post

Turun Langsung, IWAPI Aceh Salurkan Bantuan Banjir Tahap Pertama ke Pidie Jaya

Next Post

BPBD: Tidak Ada Lagi Daerah Terisolir Pasca Bencana di Pidie

Next Post
BPBD: Tidak Ada Lagi Daerah Terisolir Pasca Bencana di Pidie

BPBD: Tidak Ada Lagi Daerah Terisolir Pasca Bencana di Pidie

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

14/01/2026
Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

14/01/2026
Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026
PUPR Aceh Bersihkan Longsor di Ruas Peureulak–Lokop–Batas Gayo Lues

PUPR Aceh Bersihkan Longsor di Ruas Peureulak–Lokop–Batas Gayo Lues

14/01/2026
Dinas ESDM Aceh Terjunkan 70 Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

Dinas ESDM Aceh Terjunkan 70 Relawan Bersihkan Sekolah di Aceh Tamiang

14/01/2026

Terpopuler

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026

Banjir Aceh Diduga Akibat Hilangnya 1.100 Hektar Hutan di DAS Jambo Aye

Krak, Harga Emas di Banda Aceh Capai Rp8 Juta per Mayam

Bandara SIM Aceh Gagalkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu ke Jakarta

DPMG Aceh Beri Penghargaan Kepada ASN Berprestasi

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com