Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerpen

Secangkir Kopi dan Teman Bicara

Atjeh Watch by Atjeh Watch
18/01/2024
in Cerpen
0
Secangkir Kopi dan Teman Bicara

Aroma kopi serupa wangi paling ajaib di semesta. Otakku menerimanya sebagai aroma pemicu kebahagiaan. Setiap datang ke kedai kopi, tempat penggilingan kopi, semua tempat yang di dalamnya menyeruak aroma kopi, aku bisa seketika merasa nyaman. Bagiku, kopi layaknya aroma terapi yang menentramkan. Aku suka sekali.

Untuk seorang cupper sepertiku, menyeruput kopi tidaklah sesederhana membiarkan larutan kecoklatan itu membanjiri indra pengecap, kemudian lewat kerongkongan dan berlalu begitu saja.  Ada prosesi sakral yang bahkan sudah dimulai sedari awal. Saat bubuk kopi kering mengisi cangkir, memandu aroma untuk keluar, bercerita tentang dirinya.

Kemudian kopi diseduh, dan siap diseruput. Ini tahapan terintim dari cupping. Memaksimalkan kerja indra pengecap untuk memberi nilai seobjektif mungkin dari secangkir seduhan kopi. Di sinilah akurasi seorang cupper dipertaruhkan.

Menyeruput dengan cepat. Membasahi rongga mulut sampai kerongkongan, dan mengeluarkan sisa cairannya. Penilaian terbaikku jatuh pada cangkir terakhir dari lima cangkir di depanku.

“Bagaimana?” Bang Okan bertanya, ada harap di sana. Dia mentorku di kelas cupping.

Seruputan ketiga, aku memberanikan diri menjawab. “Lengkuas, kah?”

“Ini ginger,” bang Okan sedikit kecewa.

Bang Okan bilang, perempuan punya keistimewaan pada lidahnya. Karena cenderung lebih dekat dengan dapur, lebih sering bertemu ragam rasa juga aroma. Sadar atau tidak, itu mengasah kemampuan indra. Berbeda dengan laki-laki, yang umumnya adalah perokok, lidah biasanya sudah terkontaminasi, turun pula kepekaan rasanya. Belum lagi jika lidah mengalami gangguan rasa sebab minuman beralkohol atau obat-obatan. Semakin sulit untuk mengoptimalkan pengecapan.

“Jadi, kamu punya kesempatan besar bermain di dunia cupper,” bang Okan mengulangnya untuk kesekian kali.

Dia bicara serupa tembok, dingin, tanpa ekspresi. Apa dia tak pernah sadar bahwa ada kesempatan besar lain yang kuharap dibalik mentoring yang diberikannya. Selain kopi, dia sudah menjelma menjadi sesuatu yang istimewa di kepalaku, mengalahkan segala urusan kopi-kopian. Hal yang kemudian mengganggu prioritasku dalam kelas ini.

“Kamu mau kopi?” Tawar bang Okan di ujung kelas. Dia sudah bergerak menuju bar dan menghidupkan mesinnya.

“Oh, kamu tidak minum kopi, ya. Satu-satunya yang ikut di kelasku dan tidak minum kopi. Luar biasa.” Ketusnya, menimpali pertanyaan pertamanya yang tak terjawab.

“Tolong jangan diskriminasi aku kerena ini!” Balasku kesal. Aku tak bisa menyembunyikan lagi kesemrawutan isi kepalaku yang sepertinya sudah tampak jelas di wajah.

Bang Okan malah tersenyum, matanya hanya serupa garis di wajah yang memerah itu. Tak lama, segelas matcha latte hangat dihidangkan untukku, sedang ekspreso dan aren di depannya.

“Kenapa secangkir kopi pahit ditemani gula aren yang manis?” Tanyaku disela kebosanan.

“Sudah begitu adanya. Kalau untukku pribadi, aren itu penyeimbang. Hidup tidak boleh terkungkung pada cangkir dan rasa-rasa kopi. Terlalu dekat dengan kopi kadang membuatku lupa pada dunia di luar cangkir. Maka aren mengingatkan lidah ini, bahwa ada rasa ‘manis’ yang tidak bisa ditemukan dalam seruputan kopi.” Matanya jauh menjangkau batang-batang pinus di Bur Oregon yang menjadi dinding pembatas antara Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Aku belum pernah mendengarnya bicara sebanyak ini di luar kopi.

“Kadang kupikir aren serupa ‘teman bicara’. Ada, menemani kopi, melengkapi rasa. Meski berbeda, tapi kopi dan aren saling bersetia. Membersamai si peminum sampai ujung cerita.” Tambahnya.

“Apa kamu punya teman bicara, Pinte? Bagaimana rasanya punya seseorang yang bersetia berbagi cerita dengan kita!” Deg, untuk pertama kalinya bang Okan menyebut namaku. Kupikir bahkan dia tak pernah tahu dan menganggap penting untuk tahu namaku.

Tiba-tiba aku menerima segerombol energi untuk merespons percakapan ini. Bersemangat aku melanjutkan cerita antara aku dan bang Okan yang akhirnya terjadi dua arah. Buka sekedar pendengar, aku saat ini berada dalam posisi didengarkan pula. Seperti memang lotre, ini adalah hari keberuntunganku. Setelah sekian lama dicuekin oleh manusia es ini, aku bisa berbicara sesuatu di luar kopi dengannya. Hangat sekali rasanya suasana sore di kota Takengon. Cahaya matahari masih tersenyum diperjalanan pulang ke peraduannya. Aku juga sama, terus senyum-senyum sepanjang sisa hari.
***

Bang Okan seorang Q greader, yang punya sertifikasi untuk menentukan nilai dan kualitas kopi. Tak pernah salah memang aku belajar dari dia yang terbaik dibidangnya. Semakin tinggi minat dan kepedulian masyarakat Gayo pada kopi membuat kelas-kelas informatif terkait kopi semakin subur. Bang Okan jadi salah satu pembicara yang paling ditunggu.

Kaos putih lagi, bang Okan datang dan melirik padaku. Ada tulisan ‘secangkir kopi dan teman bicara’ di kaosnya. Oh, itu kaos yang kubuat khusus. Sebenarnya kaos itu sepasang, tapi tentu satunya kusimpan di lemari. Hanya kupakai saat aku rindu pada teman bicaraku, dan dia tidak perlu tahu. Hari ini bang Okan memakainya di depan orang banyak. Aku tersanjung sekali.

“Secangkir kopi punya kemampuan mencitrakan dirinya. Kita bisa menarik mundur proses panjang kebelakang. Bagaimana dia diseduh, diroasting, dijemur, proses panen, tempat tumbuh, sampai penanaman.
Jika mau mendengarkan, secangkir kopi dengan penuh sukacita akan bercerita semua perlakuan yang diterima pada tiap prosesnya.
Artinya, pemahaman seseorang terhadap kopi yang ditanganinya, juga dapat terukur dari sana!”

Beberapa tahun terakhir, dunia kopi jelas bergerak begitu cepat, teramat cepat bagi para petani untuk ikut berlari. Terbata-bata mengeja, belum fasih ternyata membaca keadaan. Masih mencoba paham, memaknai binar mata orang-orang asing pada biji kopi kemerahan di batang. Terheran, karena biasanya hasil panen hanya sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Anak bisa sekolah, beras tersedia di dapur, tidaklah sampai bergelimpang kenyamanan hidup. Petani tak pernah paham, saat kopi jadi perbincangan hangat di meja elit, seketika pula nilai tukarnya melejit.

“Jika mau untung yang lebih besar, petani harus berani meningkatkan kapasitasnya. Tidak sekedar berujung di panen, tapi juga ikut andil dalam proses pasca panen. Harus ada pemutusan rantai dari pemain yang punya kemampuan menampung lebih banyak kopi. Membeli dengan harga murah, kemudian diproduksi dan meraup keuntungan berlipat-lipat.” Ada api yang menyala-nyala dari matanya.

Aku ikut geram sampai di sini, ingin rasanya menyertai tiap langkah bang Okan bergerak memberi edukasi untuk para generasi muda yang juga mencintai kopi. Memberi paham bahwa proses produksi setelah panen punya tempat istimewa dalam industri ini. Anak-anak para petani seharusnya mampu mengambil bagian penting pula. Itulah harapan kecil yang selalu digemakan bang Okan, bagaimana petani kembali bersetia pada mantra yang sama, bukan sekedar ucap pada lisan tapi juga terpatri di jiwa.

Siti kewe
Kunikahen ko urum kuyu
Weh ken walimu
Tanoh ken saksimu
Lao ken saksi kalammu

“Bukan sekedar uang, bertani adalah kesetiaan pada tanah, pada air, pada tatanan kehidupan yang memberikan nikmat berupa bijih kopi terbaik dunia.” Tandas bang Okan.

Kelas berakhir dan orang-orang bertepuk tangan. Kuhabiskan sisa latte di cangkirku. Menyelesaikan satu lagi bagian dari buku kehidupan yang tertutup kabut puluhan tahun di tanah leluhur ini.

“Ada rencana ke mana setelah ini?” Bang Okan tahu-tahu sudah berada di sampingku.

“Belum ada rencana bang, apa ada kelas lagi?” Basa-basi paling basi. Tapi masih jadi andalan.
“Tidak ada kelas lagi hari ini, kita juga tidak akan membahas soal kopi sebagaimana biasanya. Apa kamu keberatan? Kita bicara sambil makan, ya.” Deg, jantungku berdetak cepat. Serupa pertama kali bicara dengannya.

“Aku dapat proyek pengembangan pasca panen kopi, untuk 13 provinsi, 14 kabupaten di Indonesia. Program akan berjalan lima bulan lagi, kontrak kerjanya tiga tahun. Paling lambat tiga hari lagi aku sudah harus pergi, untuk mempersiapkan kontrak dan berkas lainnya.” Tanpa basa-basi, seperti biasa.

Aku masih bengong, bang Okan melanjutkan, “ada kabar baik, juga kabar buruk untukmu terkait proyek ini.”

Jelas aku semakin bingung, bang Okan tidak pernah cerita tentang proyek manapun padaku, selain keseriusannya mengajarkanku soal cupping dan keseriusanku padanya yang tersimpan dalam diam.

“Kabar buruknya, upayaku memasukkanmu dalam daftar tenaga bantu dalam proyek ini ditolak. Karena semua staff sudah diseleksi di provinsi masing-masing. Tidak ada wilayah kita di dalamnya.” Wajahnya masih datar. Tak tertembus.

Pelayanan datang membawakan dua nasi bakar, dua gelas air putih dan lemon tea hangat, bang Okan suka sekali lemon, selain kopi, tentunya. Pikiranku kembali melejit pada topik pembicaraan bang Okan. Lalu apa kabar baiknya? Adakah yang lebih baik dari sekedar berharap bang Okan membatalkan kontraknya dan tetap berada di kota ini, dalam jangkauan radarku. Memberikan waktu lebih lama untukku membuka lembar-lembar kisah yang terlanjur mengikatku secara emosional!

Aku mulai panik, berharap pembicaraan ini tidak dilanjutkan. Atau kemudian bang Okan sadar bahwa aku bukanlah orang yang seistimewa itu, untuk mendengarkan langsung berita ini.

“Tapi aku punya banyak hal yang belum selesai dibicarakan tentang kopi, denganmu. Pun, kamu perlu belajar lebih serius untuk menjadi cupper profesional, bukan? Kupikir, kabar baiknya adalah, aku putuskan kamu akan ikut denganku. Aku butuh kamu sebagai teman bicara-ku.” Hening yang panjang.

Bang Okan mengeluarkan kotak persegi berwarna hitam dari tasnya. Meletakkannya di atas meja dengan kondisi terbuka. Sebuah benda setengah lingkaran mengintip di sana.

“Aku harap, itu juga jadi kabar baik untukmu,” bang Okan menutup kalimatnya.

Ludes sudah air putih di gelasku, sekali teguk. Bang Okan menawarkan gelasnya yang masih belum tersentuh. Dia menyeringai puas setelah menyelesaikan kalimatnya. Melempar bola dingin dalam obrolan ini padaku. Aku menjadi beku seketika. Sekejap saja, air yang di tawarkan bang Okan juga raib.

“Aku perlu mengisi lambungku untuk mencerna semua ini, bolehkah kita mulai makan?” Itu ungkapan bodoh yang keluar dari mulutku.

Apa aku sedang bermimpi?

Langit sore semakin memerah, semburatnya pecah di permukaan danau Lut Tawar dan menepis wajahku. Burung-burung terbang bergerombol kembali ke sarangnya. Sementara hatiku belum juga kembali. Menyusuri dalamnya kalimat bang Okan barusan.

Tolong katakan bahwa aku tidak bermimpi! Apa aku sedang dilamar?

Penulis: Biasa disapa, Valent. Rutin membagikan kisah dan pikiran di akun valentinesback.blogspot.com juga IG @fauraria.vlt. Pribadi yang selalu berupaya  #mengasahpeka dan menemukan #temanbicara untuk memberi warna kehidupan menuju versi terbaik diri.

Previous Post

UIN Ar-Raniry Kembali Tambah Lima Guru Besar

Next Post

Asa Terpendam, Judul Drama Garapan SLBN Pembina Provinsi Aceh

Next Post
Asa Terpendam, Judul Drama Garapan SLBN Pembina Provinsi Aceh

Asa Terpendam, Judul Drama Garapan SLBN Pembina Provinsi Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kasus Beasiswa Fiktif Terkuak, Kejati Aceh Periksa 67 Saksi

Kasus Beasiswa Fiktif Terkuak, Kejati Aceh Periksa 67 Saksi

16/04/2026
45 Menara Telekomunikasi di Baiturrahman Didata Pemko Banda Aceh

45 Menara Telekomunikasi di Baiturrahman Didata Pemko Banda Aceh

16/04/2026
Bupati Aceh Besar Kunjungi Sekolah Rakyat Darussa’adah di Darul Imarah

Bupati Aceh Besar Kunjungi Sekolah Rakyat Darussa’adah di Darul Imarah

16/04/2026
Pemkab Aceh Tengah Fokus Rekonstruksi Pasca-Bencana dan Perkuat Basis Data Kemiskinan

Pemkab Aceh Tengah Fokus Rekonstruksi Pasca-Bencana dan Perkuat Basis Data Kemiskinan

16/04/2026
Kepala BPMP Aceh Kunjungi Disdikbud Aceh Selatan, Siap Bersinergi Terapkan Program Prioritas Pendidikan Nasional

Kepala BPMP Aceh Kunjungi Disdikbud Aceh Selatan, Siap Bersinergi Terapkan Program Prioritas Pendidikan Nasional

16/04/2026

Terpopuler

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

Muscab PKB Pidie Lahirkan 7 Nama Kadidat Ketua

13/04/2026

Gubernur Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Secangkir Kopi dan Teman Bicara

Wabup Abdya Kunjungi Warga Cot Mane, Pastikan Pembangunan Rumah Layak Huni

Setelah Diarahkan Bupati, Baitul Mal Abdya Langsung Tinjau Rumah Nurlaila

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com