SUASANA di salah satu Warkop di pesisir Aceh Besar, terlihat ramai pada Sabtu malam, akhir pekan lalu.
Ada belasan remaja berusia 17-25 tahun di sana. Mereka terlihat menikmati segelas kopi sambil ‘Mabar’ mobile legend.
“Masuk koe anjing,” ujar seseorang remaja di sudut kiri ruangan. Ia bicara setengah berteriak. Tak sadar dengan pandangan sejumlah mata yang tertuju pada mereka.
“Eh, anjing, anjing. Mati kau kan,” ujarnya lagi.
“Mampus anjing,” kata remaja tadi lagi berteriak. Namun kali ini matanya memandang sekeliling. Ia tersentak sadar bahwa teriaknya menarik perhatian pengunjung Warkop lainnya.
“Eh, babi. Jangan keras-keras kalau teriak,” tegur temannya di depan.
“Anak babi ini kalau lagi Mabar, rusuhnya minta ampun,” sahut temannya yang lain.
Lima sekawan itu kemudian kembali melanjutkan Mabar-nya. Tak berselang 10 menit, makian dalam bentuk ‘kebun binatang’ seperti tadi kembali terdengar. Kali ini ditambah ‘monyet.’
Keberadaan mereka bikin sejumlah pengunjung Warkop lain geleng-geleng kepala. Kondisi ini berlangsung hingga mereka bubar Minggu dini hari.
“Saya tak ada masalah mereka mau nongkrong di Warkop, tapi terkadang sedikit terganggu dengan makian yang kerap terlontar. Apalagi jika seluruh kebun binatang disebut,” ujar Yani, 45 tahun, salah seorang warga di Krueng Cut, Aceh Besar.
Menurutnya, ada sedikit ke-anehan di Gen Z Aceh saat ini. Dimana, kata ‘anjing’ dan ‘babi’ seolah telah menjadi kosakata yang lumrah terucap dalam aktivitas sehari-hari.
“Bukan hal yang tabu lagi. Ini jelas sangat mengganggu,” ungkap Yani.
Sayuthi, 43 tahun, warga Aceh Besar lainnya, menambahkan pemandangan seperti sekarang, merupakan hal yang lumrah terlihat di Aceh saat ini. Dimana, kata anjing dan babi seolah menjadi kata yang umum dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Padahal, dulu ini hal yang tabu. Terlebih kita tinggal di Aceh,” kata Sayuthi.
“Tapi sekarang anjing dan babi menjadi kata yang umum. Tak enak didengar tapi inilah keadaan sekarang. Kasus seperti ini, bukan cuma Warkop ini tapi dalam aktivitas Gen Z, anjing dan babi merupakan kata yang lumrah.”
“Pengaruh dunia maya sudah mengakar di Aceh. Kalau kita tanya siapa yang salah, ini mungkin sulit. Ini tanggungjawab Bersama,” ujar dia lagi.










