Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau emas Antam pada perdagangan hari ini, turun Rp 3.000 dibandingkan dengan kemarin.
“Harga emas batangan satu gram Rp 931.000,” seperti dikutip dari situs resmi Logam Mulia pada Rabu, 22 Desember 2021.
Situs Logam Mulia menyebutkan harga emas Antam di butik Pulogadung, Jakarta hari ini, yaitu:
1 gram Rp 931.000
2 gram Rp 1.802.000
3 gram Rp 2.678.000
5 gram Rp 4.435.000
10 gram Rp 8.805.000
25 gram Rp 21.887.000
50 gram Rp 43.695.000
100 gram Rp 87.312.000
250 gram Rp 217.265.000
Adapun harga emas berukuran 500 gram, yaitu Rp 435,8 juta. Dan harga emas batangan 1.000 gram yaitu Rp 871,6 juta.
Kemarin, harga emas berada di level Rp 934.000 per gram. Untuk harga buyback emas hari ini adalah Rp 826 ribu per gram.
Adapun harga emas hari ini lebih rendah dibanding awal 2021 yang sehbesar Rp 969 ribu. Sedangkan harga emas hari ini jauh lebih tinggi dibanding awal 2020 yang sebesar Rp 771 ribu.
Di pasar global, harga emas menguat pada awal perdagangan hari ini usai tergelincir sebelumnya di tengah penguatan dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari 2022 di Comex New York Exchange terpantau menguat 0,05 persen atau 0,9 poin ke US$1.789,60 per troy ounce pada pukul 08.24 WIB.
Sedangkan harga emas di pasar spot hari ini menguat tipis 0,02 persen atau 0,28 poin ke US$ 1.789,55 per troy ounce. Pemulihan komoditas tersebut mampu memulihkan pelemahan yang terjadi kemarin akibat penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Tercatat emas Comex pada Selasa tergelincir 5,9 poin atau 0,33 persen ke US$ 1.788,70 per troy ounce. Emas di pasar spot juga melemah 0,2 persen menjadi US $1.786,50 per troy ounce.
“Terdapat risiko pada perdagangan karena ekuitas AS bangkit kembali setelah kerugian kemarin dan dolar juga pulih bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS, semuanya sedikit menekan emas,” kata Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Rabu, 22 Desember 2021.
Ia menjelaskan, investor kini khawatir dengan ketidakpastian termasuk pukulan ekonomi dari Covid-19 dan level US$ 1.800 tetap menjadi titik pivot utama untuk emas. Kurs dolar AS, menurut Blue Line Futures, menutup beberapa kerugiannya, sementara sentimen risiko pulih sebagian setelah aksi jual di pasar global.
“Namun, logam mulia dapat memperoleh tawaran beli baru pada tahun 2022 jika ekspektasi inflasi tetap tinggi sementara imbal hasil nominal tetap tertekan,” kata Han Tan, kepala analis pasar di Exinity.
Selama ini emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap lonjakan besar harga konsumen (inflasi). Namun saat suku bunga naik dan menahan laju inflasi, daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil jadi berkurang.
Walau begitu, menurut analis pasar senior di OANDA, Jeffrey Halley, investor emas masih belum memiliki nyali untuk segala jenis kerugian, sebagaimana dibuktikan oleh kemunduran cepat baru-baru ini pada reli di atas US$ 1.800. Perdagangan juga tampak kurang bergairah karena investor bersiap untuk liburan Natal akhir pekan ini.








