Oleh Muhrain: Sastrawan
Era yang tidak mampu dibendung, sebab perubahan akibat tekanan 24 jam hitungan kompleks berbagai persoalan dan tantangan hadir kepada kehidupan alam semesta, berikut yang menang, bertahan juga terkalahkan.
Media hari ini adalah cawat yang bolong di sana sini, memunculkan keseksian sekaligus membongkar kemunafikan kemaluan sosok yang ditarget, tidak banyak persona yang mampu keluar memenangkan pesona sebagai titik asal mula keberhasilan.
Serangan dari sana sini bagi tokoh publik sering disandarkan kepada kebebasan demokrasi yang otokritik terhadap demokrasi itu sendiri, media lalu menjadi wahana bermain anak-anak maupun dewasa bahkan orang tua, sehingga bisa saling hibur, hina juga menertawakan tingkah polah isi dunia.
Koran tak lagi nikmat dibaca, mulai dirasakan oplah merosot oleh pemiliknya, membiayai karyawan yang Saban waktu justru ada-ada saja kebutuhan yang wajib dipenuhi, lalu pilihannya peremajaan, hantu besar korporasi berwajah asli pemutusan kerja, pecat dan bila perlu justru dirumahkan dengan alasan kasih sayang serendah-rendahnya sisa.
Medsos dengan platform beragam menyerang otak dan terkadang memicu otot lahirnya pertengkaran, sebab lidah tak bertulang, hati tak punya akar, sehingga cara pandang manusia kepada segala fenomena harian kehidupan sudah mirip memelihara bonsai.
Sekali waktu, penulis bertemu pejabat kebudayaan, di antara diskursus yang muncul dan kerap berulang adalah kegelisahan pancaroba memahami seniman dan budayawan kita, Aceh khususnya, remangan kondisi kebudayaan Indonesia di Aceh belum tercerahkan, meskipun ada saja temporary lahir juga anak muda (India) di tengah kelebat kegersangan pemikiran dan perwujudan pancaran kronik kebudayaan mutkhir, tapi itu belum mampu memberikan kontribusi ideal, kita memerlukan rentetan senjata yang tidak makan tuan, perubahan harus menjelaskan mengapa dan untuk apa, tanpa kecuali terhadap adat dan budaya tempatan.
Padahal, rumah sebenarnya dalam perkara media, konten, juga substansi pertumbuhan ide dan perwujudan justru segala pihak mendapatkan arah yang jelas, tidak semata kehendak pemberdayaan pikiran dan fisikal pencapaiannya semata, kebudayaan soal perkara media adalah kerah besar drakula yang wajahnya tersenyum bingar namun menghisap darah sebagaimana kekuasaan, siapa penting mendengar pidato kebudayaan?
Di hadapan era telah sampai juga riwayat korban gulung tikar para pebisnisnya, seseorang ingin menjadi pebisnis media sekaligus mencampuri pikiran para penulisnya, inikah rongga berlindung dan kapas bagi korban luka-luka jurnalis yang kian berdarah demi terus eksis?
Menariknya, awak media tetap di jalanan, berdebu dan kejar tayang serta diminta menguras ongkos besar pekerjaan yang justru tidak sesuai out put, saat meliput justru karuannya mencari sudut khas calon berita, namun malah sibuk ngopi dengan pebisnis korporasi, sehingga kelakar wartawan amplop dan label tak humanis terus coba disandarkan bagi profesi ini, lahirlah benalu dalam berita, bahkan budak korporat menjangkiti pebisnis media, bahaya!
Independensi berita, silat lidah berbuah proyek Humas, tak ayal jadi rangkaian kebocoran yang tempel sulam pada profesi jurnalis, bahaya bukan saja mengintai untuk kedinamisan bergerak dalam bau politik yang terus menyengat, alih-alih menjadi pewarta malah jadi pembebek, mulailah tertunggak janji pilar demokrasi dengan adanya pers, bahwa jawatan di korporasi adalah target utama, bukan justru mampu membangun media dan segala isinya secara total dan konsistensi, siapa sudi melaporkan nuraninya kepada kekuasaan dan para penjilat? Sudahkah media memandang independen itulah jalan keberhasilan dan nilai tawar yang tidak boleh kurang, bisnis cetak mencetak pemberani berkata benar.
Ketika para ahli teknologi informatika menjebak media sebagai kreator platform, sesungguhnya inilah lapak, bila digulung, kembali ke lapak sendiri, koran cetak, bisnis kertas, hutan yang kayunya jadi isu Kredo dan tiang pancang seluler menyatelitkan keberagaman, berbondong bondong bersujud pada dinding media sosial.










